Review Anime Isekai Yang Membawakan Angin Segar Ke 2019

Admin | |



“自分の行きたい用にい煮られないなんて和、意味がないんです。”
“Jika aku tak bisa hidup seperti yang kuinginkan, maka tak ada artinya hidup” — Maine

Tapi apakah hidup sesuai keinginan kita akan semudah itu? Tentu tidak, karena kita hidup dalam masyarakat pasti kita akan merasa terhambat dan akan selalu memberi cap salah kepada orang lain. Apakah itu salah? Tidak, kalau memang itu yang ingin dicapai, maka jalan seperti itulah yang akan dilalui. Cieeelah klise bet apa dah 😅.


Yuhuuuu~ jadi kembali lagi dengan saya, Reii, dalam blog yang lama hiatua ini. Jadi setelah urusan sekian banyak selesai, kali ini saya akan membawakan ulasan dari Ascendance of Bookworm yang sudah selesai untuk bagian pertamanya. Selamat membaca tulisan panjang saya ini, semoga bisa sampai habis.


Visual — 8/10


Cukup mengejutkan memang saat melihat visualnya. Rambut para karakternya yang mencolok cukup menganggu dimata saya. Karena saya tidak melirik sumber adaptasinya sama sekali sebelum ini. Karena itulah pewarnaannya membuat saya benar-benar terkejut.
Setelah penayangannya berakhir dan mulai menulis ini barulah saya cek. Dan memang ilustrasi dari novel ringannya pun sama. Walaupun pada akhirnya saya terbiasa, tetap saja di awal rasanya aneh. Seperti kata orang-orang, kesan pertama itu penting.
Lalu untuk grafis, jelas bagus, namun bukan itu yang membuat saya terkesan. Melainkan kesederhanaan yang dibawakan oleh visualnya. Dengan pewarnaan dan detail visual yang tidak muluk-muluk, terutama pada objek manusia yang membuat animasinya terlihat lebih stabil. Namun bagi beberapa orang akan merasa kurang cocok karena permainan warnanya jadi cenderung flat.
Secara sinematisasi, anime ini lebih fokus kepada naskahnya. Salah satu indikasi dari saya adalah, karena memang tidak banyak diperlihatkan beauty shot padahal memiliki seni latar yang menawan. Disisi lain, adapula beberapa shot yang menurut saya kurang efektif. Jadi rasanya memang ada wasted potential dari aspek sinematisnya sendiri.
Memiliki animasi yang sederhana, tidak hiperbolik. Namun memberikan detail yang cukup memuaskan bagi saya. Serial ini jadi memiliki animasi yang terasa cukup realistis dengan berat animasi yang terasa nyata. Juga sudah saya sebutkan diatas, kualitas animasinya jadi bisa lebih terkontrol dan stabil karena penggunaan warna dan efek yang sederhana. Hal ini menjadi sebuah nilai plus tersendiri pada aspek visual ini. Entah itu bagi animatornya maupun penikmatnya.


Karakter — 8.4/10


Salah satu kekurangan dari aspek ini, sudah saya bahas diatas. Tapi banyak hal yang menarik bagi saya datang dari sini. Jadi yang akan saya bicarakan terlebih dahulu adalah perihal visualisasi karakternya. Dari desain karakter, tidak ada yang harus saya komplain selain rambutnya itu.
Karakternya di desain dengan sangat baik menurut saya. Desain karakter yang baik adalah, yang bisa diterima penikmatnya juga tidak membebani animatornya. Masih tetap pada pakemnya namun dibuat menjadi lebih sederhana. Empat jempol untuk dua orang character designer yang menangani seri ini.
Desainnya memiliki kesan yang cukup santai. Juga memiliki proporsi yang relevan. Yaaah, saya benar-benar tidak bisa protes soal visualisasi karakternya. Tapi tentu saya tidak berhenti membahas soal karakter disini.
Karena ini merupakan cerita character driven, jadi sudah tentu akan menitik beratkan salah satu sisinya ke karakter. Satu musim berjalan hanya untuk memoles karakter utama. Dan selama berjalan sebanyak 14 episode, tugas itu masih belum selesai. Jadi itu jatuhnya baik atau engga? Bentar saya pikir dulu ya soal itu.
Karena akan ada sekuel atau kelanjutannya, saya rasa itu tidak masalah. Dan kemungkinan nanti disana kita baru akan masuk ke plot permasalahannya. Jadi disini, kita diberi pengembangan karakter Maine yang jelas dan tidak tanggung. Maine sendiri mempunyai sifat yang menarik dan atraktif yang selalu menyenangkan untuk dilihat. Ngomongin soal development yang lama, karakter yang lain pun tidak kalah lama development-nya. Contoh saja, Beno-danna yang butuh berapa episode (hanya) untuk mengupas tuntas deskripsi karakternya dia.
Tidak hanya dengan narasi dari Maine nya sendiri, karakter lain disekitarnya juga sangat-sangat membantu dalam pemolesan protagonis kita ini. Dan semua itu tidak disia-siakan. Maksud saya, bahkan yang screentime nya sedikit pun berpengaruh langsung kepada pengembangan si Maine. Mungkin itu adalah salah satu hal bagus yang bisa saya tangkap.
Untuk para pengisi suaranya, mereka memerankan peran masing-masing dengan sangat baik. Yaaaah saya kalo suruh ngomongin performa seiyuu susah. Karena udah pasti dari sekian kali take, diambil yang terbaik kan. Mbak Yuka berhasil mengikuti sifat Maine yang cukup complicated menurut saya. Saya juga sangat setuju dengan pemilihan Koyasu Takehito sebagai pengisi suara Benno-danna, bisa nempel banget sama karakter Benno. Kalau bang Tara bilang, Koyasu Takehito nya ngilang, udah jadi Benno sepenuhnya.

Plot & Cerita — 8.5/10


Akhirnya kita sampai ke sini. Dari sekian aspek, inilah yang mendapat penilaian tertinggi dari saya. Karena, satu, sangatlah enjoyable untuk diikuti. Pelan dan santai tapi tidak melupakan hal penting dari ceritanya. Dua, rilis mingguan,  dengan pace seperti ini rasanya akan kurang cocok untuk ditonton dalam sekali duduk. Kalian cuma bakal sakit pantad, saking lamanya.
Menurut saya, seri ini didedikasikan untuk satu musim penuh. Ditulis dengan hati-hati dan seperti yang saya bilang barusan, tidak melupakan detail dari ceritanya. Sampe jadinya panjang banget. Yang mungkin membuat musim ini dibuat jadi 14 episode, entah ini bener atau engga. Yang jelas walaupun pacenya lambat sekali, tapi tidak mengacaukan suatu apapun.
Memiliki storytelling yang amat rapi dengan eskalasi cerita yang sangat baik. Bahkan statistik MAL menunjukan skor yang terus bertambah di tiap episodenya. Juga menyajikan drama yang tidak berlebihan. Namun cukup untuk menggetarkan dada.
World-building yang sangat sempit, hanya dengan visual dan sedikit narasi. Mengisyaratkan betapa kecilnya dunia tanpa ilmu dalam buku. Cerita dan plot-nya sama sekali tidak meberikan ruang untuk mengetahui dunianya lebih dalam. Itu tidak masalah sebenarnya, karena kita benar-benar dibawa fokus kepada Maine.

Audio — 8/10



Saya memang suka dengan penggunaan audio yang riuh dan detail. Namun yang penggunaannya minim menarik juga ternyata. Dalam seri ini backsoundnya tidak disisipkan terlalu banyak dan terlalu lama. Penggunaannya benar-benar seperlunya.
Hal itu membuat suasananya jadi lebih nyata. Jadi backsound hanya digunakan untuk dramatisasi sesaat. Dengan skoring yang baik, membuatnya tidak terkesan terlalu berlebihan. Musiknya pun beragam, ada yang sangat mendukung, adapula yang menurut saya kurang cocok.
Disisi lain, sound effectnya lumayan detail. Dengan sound design yang bisa diterima oleh telinga saya. Namun masih kurang memuaskan, mungkin karena beberapa efek yang kurang mendekati aslinya. Sudah cukup dengan itu, mari lanjut ke lagu tema.
Dibuka oleh Sumire Morohoshi dengan lagu berjudul "Mashiro". Ini merupakan lagu yang cukup memorable bagi saya untuk musim gugur tahun lalu. Diawal terdengar pelan tapi sebenarnya menipu, temponya sama aja. Aransemen musik yang terdengar bahagia sungguh menyenangkan untuk didengar. Liriknya sendiri cukup menggambarkan Maine dan perjalanannya selama 14 episode.
Lalu setiap episodenya selalu di akhiri dengan lagu slow jazz yang menenangkan. Saya merasakan vibe lagu animasi musikal jaman dulu. "Kami-kazari no Tenshi" ini sangat cocok untuk menemani disaat malam hari.

Overall — 8.2/10

Sebuah anime dengan plot character driven akut. Tidak ada cerita tanpa protagonis. Yang mana juga berjalan sangat pelan namun pasti. Memberikan pengalaman menonton yang sangat menyenangkan. Dengan pengembangan karakter yang tidak hanya untuk diri sendiri tapi yang lain juga. Sungguh akan sangat nikmat kalau ditonton pada pagi buta sambil menyeruput kopi dan makan roti.
Problem sederhana yang cukup masuk akal. Dengan drama teman dan keluarga yang baik dan benar juga porsi yang cukup. Karakter-karakter yang mudah disukai mulai dari penampilan hingga sifat. Sampai pada eskalasi dan progres yang sangat baik dan memuaskan. Tapi perlu diingat kalau tidak disarankan untuk maraton langsung. Karena kalian benar-benar akan sakit pantat, saking lamanya.


Aaaah, setelah sekian lama ga bikin review, akhirnya bikin satu lagi. Ya maaf-maaf ini, kemarin ga ada update sama sekali, entah itu game ataupun review. Dan kali ini mumpung ada event kompetisi review makannya saya post juga di blog. Sekalian promosi ea ea kan. Jadi terima kasih bagi kalian yang sudah membaca sampai sini. Kirimkan kritik/saran kalian ke Fanspage GO Bloger ID di Facebook, sampai jumpa.

Related Post

0 Comments for "Review Anime Isekai Yang Membawakan Angin Segar Ke 2019"